[Resensi] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Diposting oleh cha'diii di Minggu, Mei 17, 2015
Oleh : Eka Kurniawan
ISBN : 9786020303932
Rilis : 2014
Halaman : 252
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indoensia
ISBN : 9786020303932
Rilis : 2014
Halaman : 252
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indoensia
Novel ini bertema romansa yang menceritakan kisah cinta sederhana Ajo Kawir dan Iteung. Melalui novel ini Eka Kurniawan menggambarkan secara tidak langsung kondisi negeri kita yang dikuasai oleh nafsu. Cara Eka Kurniawan bercerita menjawab pertanyaan mengapa di bagian belakang novel ini tertulis 21+.
Dapatkan buku ini di took buku online Bukupedia http://www.bukupedia.com/id/cari-buku/?keywords=Seperti+Dendam%2C+Rindu+Harus+Dibayar+Tuntas&modesearch=id
Sinopsis
Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.
Review
Gaya eka bercerita dalam novel terbarunya ini menurut saya “lucu”. Dari satu bagian ke bagian yang lain, sebelum dan sesudah bagian cerita, tidak berhubungan. Kadang Eka bercerita tentang kisah yang belum diceritakan, kadang ia menjelaskan sebab muasal kisah sebelumnya dan hal inilah yang membuat pembaca senang dan selalu fokus dalam menikmati novel ini. Mungkin pembaca yang baru membaca bagian-bagian awal dari buku ini akan bingung bahkan sampai bertanya apakah ini benar-benar cerita yang berhubungan atau malah cerita baru? Ternyata Eka Kurniawan menyelipkan penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan tadi di bagian yang tidak disangka-sangka.
Beberapa kisah dalam novel ini merupakan gambaran bebalnya para pelaksana hukum di negeri kita, di mana ada segelintir dari mereka memanfaatkan seragam yang dipakai untuk memuaskan nafsu, mengorbankan wanita gila yang ditinggal mati oleh suaminya. Tidak hanya dari sisi pelaksana hukum, sisi lain yang diselipkan Eka Kurniawan dalam novelnya adalah ke’gatalan’an para pendidik yang seharusnya tidak layak dianggap sebagai pendidik. Mereka lagi-lagi mengambil kesempatan dari gelar profesi pahlawan tanpa tanda jasa hanya untuk kesenangan nafsu semata, yang mengakibatkan gangguan pada kepribadian si anak sampai ia besar, dan hal itulah yang dirasakan oleh Iteung. Pelajaran yang paling terlihat jelas di novel ini adalah, se-garang-ngeri-kuat-sangar-nakal-nya laki-laki selalu ada sisi melankolisnya untuk wanita yang disayangnya, selalu. Hal ini digambarkan jelas oleh Eka pada karakter Ajo Kawir dan Mono Ompong. Saya juga salut dengan Si Tokek dengan cara ia menghargai sahabatnya dan kekonsistenan ia menghukum dirinya sendiri terhadap kesalahan besarnya di masa lalu kepada sahabatnya, dan cara ia ber-joke dengan kawan dan keluarganya.
Selain itu, yang membuat novel ini juga tergolong recommended adalah Eka tak ragu menyelipkan frankly speaking yang berhasil membuat perut tergelitik namun dalam keadaan bersamaan juga menyentil kesadaran. Seperti dalam percakapan Wa Sami dan Si Tokek,
“Masya Allah, bisakah kalian berhenti menjadi makhluk yang sia-sia?”
“Tuhan bilang, tak ada yang sia-sia di dunia ini,” kata Si Tokek.
“Jangan sok tahu. Kau tak tahu apa-apa tentang apa yang Tuhan katakan.”
“Tuhan bilang, tak ada yang sia-sia di dunia ini,” kata Si Tokek.
“Jangan sok tahu. Kau tak tahu apa-apa tentang apa yang Tuhan katakan.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar