Oleh : Tere Liye
ISBN : 9789792269055
Rilis : 2011
Halaman : 304
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indoensia
ISBN : 9789792269055
Rilis : 2011
Halaman : 304
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indoensia
Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekedar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan seuah benda yang disebut hati?
Tere Liye secara implisit menjawab rentetan pertanyaan ini dalam sebuah kisah mengharukan seorang ayah yang gemar berdogeng untuk anak dan cucunya.
Dapatkan buku ini di took buku online Bukupediahttp://www.bukupedia.com/id/book/id-37143/ayahku-bukan-pembohong.html
Sinopsis
Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?
Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.
Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.
Review
Ini adalah sebuah cerita seorang anak, Dam, yang dibesarkan dengan beribu-ribu dongeng oleh ayahnya. Akibat dongeng itu, Dam, sangat senang dengan cerita ayahnya, sampai suatu saat Dam mendapati bahwa semua cerita ayahnya adalah bohong belaka. Dari situ, ia tak lagi suka dengan cerita-cerita ayahnya, ia menganggap ayahnya adalah pembohong, pembual besar, sampai-sampai tak sudi jika anaknya juga disuapi dengan cerita-cerita bohong tersebut.
Terlepas dari alur ceritanya yang hampir sama dengan novel Big Fish oleh Daniel Wallace, Tere Liye mengembalikan semuanya kepada pembaca untuk menyimpulkan apakah novel ini menjiplak/terinspirasi atau tidak. Bang Tere hanya ingin meyakinkan bahwa kebahagiaan itu sederhana, dunia anak-anak selalu indah, dan kasih sayang keluarga adalah segalanya. Kabar baiknya, inilah novel karangan Tere Liye (2011) yang berhasil membuat pembacanya berderai air mata ketika selesai membacanya. Cara Tere Liye yang selalu bercerita dengan menanamkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap dongeng yang diceritakan oleh ayah Dam membuat novel ini harus dibaca oleh anak-anak muda Indonesia.
Sosok ayah dalam novel ini merupakan sosok inspiratif. Betapa ia lebih memilih untuk menjadi orang yang sederhana dalam hidupnya demi mencapai kebahagiaan hakiki. Seorang lulusan luar negeri, mahasiswa lulusan terbaik yang seharusnya berdasarkan gelar akademiknya akan memilih menjadi hakim agung, namun tidak bagi sang ayah. Beliau lebih memilih menjalani hidup sederhana.
Hakikat kebahagiaan itu berasal dari hati kau sendiri, bagaimana membersihkan dan melapangkan hati sendiri, bertahun-tahun membuat hati lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat pula hilang kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, semunya juga datang dari luar. Semuanya akan datang jika hati dangkal, hati seketika keruh berkepanjangan.
Berbeda halnya jika kita punya mata air sendiri di dalam hati, mata air yang konkret yang menjadi sumber kebahagiaan. Inilah hakikat kebahagiaan sejati, memperolehnya tidak mudah. Kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memksa hati untuk berlatih. Berprasangka baik kepada semua rang, berbust baik bahkan pada orang yang baru dikenal, menghargai orang lain, kehidupan dan alam sekitar.
Berbeda halnya jika kita punya mata air sendiri di dalam hati, mata air yang konkret yang menjadi sumber kebahagiaan. Inilah hakikat kebahagiaan sejati, memperolehnya tidak mudah. Kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memksa hati untuk berlatih. Berprasangka baik kepada semua rang, berbust baik bahkan pada orang yang baru dikenal, menghargai orang lain, kehidupan dan alam sekitar.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar