When big larry came around just to put him down
Spongebob turned into a clown
And no one ever wants to dance
With a fool who went and ripped his pants
I know I souldn’t mope round I souldn’t curse
But the pain feels so much worse
‘Cause windin’ up with no one is a lot less fun
Than a burn from the sun or sand in your buns
Now I learned a lesson I won’t soon forget
So listen and you won’t regret
Be true to yourself don’t miss your chance
And you won’t end up like the fool who ripped
his pants
(spongebobs the best!!)

#very like the means of this song... "sesuatu" :D

malam itu, saya hendak ngajar. Biasa, rutininitas baruku yang telah kujalani hampir setengah tahun ini. seperti biasa, saya diantar oleh adek saya, Heri. Namun, kali ini rute yang diambil heri berbeda dengan yang sebelumnya. Nah, cerita dimulai ketika kami berhenti di lampu lalu lintas (kalo kbnyakan orang di Makassar seringnya bilang "lampu merah" (aneh juga sih, kenapa yang disebut adalah lampu merah, padahal ada dua lampu lagi yang juga berbeda warnax. mungkin karena warna merah pada lampu lalu lintas tersebut memberikan makna yang lebih berarti bagi pemakai jalanan dibandingkan dengan warna lampu hijau dan kuning tentunya). Singkat cerita, ketika "lampu merah" benar-benar merah, seorang anak dengan gemericing (dak tahu nama alat yang dimaksud, terbuat dari kaleng, yang jika digoyangkan akan menghasilkan bunyi khas) menghampiri kami.


dimanaaaa, dimanaa, dimaaaanaaa...
kuharuuusss, mencariiii di maaanaaa...

dengan suara cengkoknya, anak yang kira-kira masih berusia 5 tahun itu bernyanyi. dengan muka tnpa ekspresi, ia tetap saja melanjutkan lagunya si ayu ting-ting. 



Awalnya saya merasa terganggu, tapi lama ketika saya tatap mata anak lampu merah tersebut, ada sesuatu yang bercerita di dalamnya. Entah, apa. Dan ketika "lampu merah" telah berubah warna dan tak ada seorangpun yang menyisihkan sebagian rupiah untuk ia, terlihat jelas kekecewaan d matanya. sedih saya melihatnya. Terlalu cepat bagi anak seumuran ia untuk merasakan "indah"nya memperoleh rupiah.



Image Detail 

setelah itu, beberapa "questionmark" terlintas d benakku:

"di mana mamanya..??
 di manaa bapaknya..?? 
dimana keluarganya..??
setega itu mereka meninggalkan anaknya di jalanan..?? bertemu dengan beribu karakter di jalanan.?? dengan beribu merek kendaraann..?? dan tentunya beribu bahaya di sana..

selalu saya mengatakan " saya tak tahan melihat anak-anak dan orang yang sudah tua" selalu saja hati saya tersentuh jika melihat anak-anak dan orang tua. jika bukan "GEMAS" pada mereka berarti "TERIRIS" melihat mereka. terlalu deras air mata ini untuk mereka. 

Blogger Template by Blogcrowds